Twitter Nuansa


Breaking News

21/10/12

Kisah Diponegoro di Manado

Drama Sejarah 1832 (Kisah Diponegoro di Masa Pembuangan di Manado)/Penulis: Remy Sylado/Desainer: Andy Yoes Nugroho/Penerbit: Nuansa Cendekia 2012/Tebal: 92 hlm/Rp:22.500. 

Nama Diponegoro sudah tidak asing lagi di negeri ini. Beragam buku sejarah, telah hadir memenuhi rak perpustakaan pribadi maupun institusi pendidikan. Ia adalah legenda nusantara yang karena itu patut mendapat tempat khusus. Dari sinilah kemudian Remy Sylado, seorang sutradara terkemuka Indonesia ingin menghadirkan kekhususan Diponegoro dalam bentuk drama.


Sebagaimana ciri khas Remy yang menulis dengan tujuan khusus, kali ini menghadirkan teks sejarah-drama dalam tujuan untuk menggali sumber kebinekaan yang jauh di masa lalu hidup berkembang di Minahasa.
Pada tahun 1832, saat itu,  Pangeran Diponegoro ditawan di Manado, dan pengikutnya bersama Kyai Mojo diblanglas di Tandano melestarikan budaya sinkretisme Islam-Jawa. Berbareng dengan itu zendeling asal Jerman, J.F Riedel, memilih menginjil di Tondano dengan pola teologi pietisme. Sementara latar keyakinan masyarakat Minahasa sendiri kala itu adalah agama suku yang memercayai antara opo (dewa) dan opo-opo (jimat) menurut model tersendiri panteisme.
Dalam kisah ini Remy memotret kenyataan yang menarik bahwa, kala itu, terjadi kenyataan perlintasan kebudayaan yang unik dari dua latar keyakinan agama samawi di atas latar agama suku, dan itu berlangsung secara damai dan mesra. Hal ini menurut Remy bisa menjadi cermin ideal keberagamaan dalam kerukunan sejati.
Selain itu, Remy juga memotret laku hidup petinggi kolonial dengan beragam kontradiksi. Ada kisah Residen, Tuan Pietermaat yang sering konflik dengan istrinya karena perbedaan sikap dalam memandang pribumi. Ada pula potret hidup sang penginjil Protestan Riedel dengan masyarakat pribumi di Tondano.
Cinta, kesetiaan, religi, keserakahan, menyatu dalam dramatika hidup manusia. Tafsir sejarah dalam naskah drama ini memiliki nilai-nilai agung perjuangan hidup manusia.
Sekalipun naskah ini berupa kajian sejarah, tetapi Remy pun menyadari bahwa isi buku ini tetaplah interpretasi personal yang harus diakui sebagai kisah fiksi. Maka, dengan mendudukkan sebagai tafsir sejarah ala sastra, kita semestinya mendudukkan buku ini bukan sebagai buku sejarah faktual, melainkan sebagai karya sastra yang dari sanalah kita berhak memetik segudang inspirasi kemanusiaan.
Penting dibaca oleh kalangan muda Indonesia, bahkan perlu dianjurkan kepada siswa sekolah SMP dan SMA karena buku ini memang pantas sebagai salahsatu bacaan inspiratif untuk nasionalisme, kebinekaan dan mentalitas hidup yang baik.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk berhubungan dengan redaksi silakan hubungi nuansa.cendekia@gmail.com. untuk layanan pembelian buku bisa hubungi nuansa.market@gmail.com

Designed By VungTauZ.Com